Dukungan Psikologis di Masa Krisis

Dukungan Psikologis di Masa Krisis

Dukungan Psikologis di Masa Krisis

Dukungan psikologis di Masa Krisis – Psychlogical first aid (FPA) dalam situasi bencana, Bencana alam seperti banjir, gempa bumi, tanah longsor, atau kebakaran hutan tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis yang mendalam bagi para penyintas.

Kehilangan rumah, harta benda,mata pencaharian, bahkanorang-orang yang di cintai sering kali mengguncang rasa aman dan harapan seseorang. Dalam situasi krisis seperti ini, banyak penyintas mengalami reaksi emosional berupa ketakutan, kesedihan mendalam, kebingungan, kemarahan, hingga perasaan tidak bedaya. Reaksi-reaksi tersebut merupakan respon yang wajar terhadap peristiwa yang tidak wajar.

Baca juga : hours350.4www.jayashreespecialityhospital.com

Bencana Memberikan Dampak Psikologis

World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa perhatian terhadap kesehatan jiwa dalam situasi darurat merupakan bagian dari respon kemanusiaan. Dalam panduan resminya, WHO menyatakan bahwa orang-orang yang terdampak bencana lebih rentan mengalami stress dan distres, namun sebagian besar dapat pulih secara alami apabila mendapatkan dukungan psikologis dasar yang memadai. Pernyataan ini menegaskan bahwa kehadiran, perhatian, dan dukungan awal memiliki peran besar dalam proses pemulihan penyintas.

Psychological First Aid

Salah satu pendekatan yang di rekomendasikan secara global untuk memberikan dukungan awal tersebut adalah psychological First Aid atau PFA. PFA merupakan bentuk pertolongan pertama pada aspek psikologis yang bersifat manusiawi, suportif, dan praktis. pendekatan ini tidak di maksudkan sebagai terapan atau konseling klinis, melainkan sebagai dukungan awal untuk membantu individu menghadapi dampak langsung dari peristiwa traumatis.

WHO mendefinisikan PFA sebagai respon yang penuh empati dan dukungan terhadap sesama manusia yang sedang menderita dan membutuhkan bantuan.

PFA berfokus  pada kehadiran yang empatik, kemampuan mendengarkan secara aktif, serta upaya membantu memenuhi kebutuhan mendesak penyintas, baik secara emosional maupun praktis. Pendekatan ini tidak bertujuan menggali pengalaman traumatis secara mendalam, melainkan membantu penyintas merasa aman, di dengar, dan tidak sendirian. Dengan demikian, PFA menjadi fondasi awal sebelum intervensi psikologis atau psikiatri yang lebih spesifik di perlukan.

PFA Bisa Dilakukan Oleh Siapa Saja

Penting untuk di pahami bahwa PFA tidak hanya dapat di lakukan oleh profesional kesehatan jiwa. WHO menegaskan bahwa PFA di rancang untuk di gunakan oleh berbagai pihak terlibat dalam respon bencana, termasuk tenaga kesehatan, relawan, petugas lapangan, guru, tokoh masyarakat, aparat keamanan, maupun sesama penyintas. Selama memiliki pemahaman dasar dan sikap empatik, siapa pun dapat memberikan PFA sebagai bentuk dukungan kemanusiaan.

Prinsip Dasar PFA

Secara prinsip, PFA bertujuan unutk melindungi, menenagkan, dan mendukung penyintas. Melindungi berarti membantu memastikan bahwa penyintas berada dalam situasi yang aman dan terlindungi dari ancaman lanjutan. Menenangkan berarti membantu mengurangi intensitas respon emosional agar penyintas tidak semakin kewalahan oleh situasi yang di hadapinya. Mendukung berarti membantu memenuhi kebutuhan.